Suatu ketika ada teman mendiskusikan tentang pondok pesantren mengadopsi system pendidikan yang dipakai oleh non muslim. Benarkah demikian ? Dari diskusi tersebut saya menulis dipostingan ini, tentunya ini hanya berdasarkan persepsi yang saya miliki dengan segala keterbatasan dan sangat mungkin ada kesalahan dan perbedaan persepsi untuk itu penulis sangat membutuhkan koreksi agar lebih menambah wawasan.
Kalau melihat dari sejarahnya Rasulullah pernah mengajarkan Islam kepada para sahabat seperti abudzar Algifari, Abu Hurairah, Salman Alfaridzi dan kawan-kawan yang bertempat diserambi masjid. Disitulah Rasulullah menggembleng para sahabat tentang Islam, Iman dan Ihsan. Dari situ pulalah muncul generasi Islam terbaik yang pernah ada di bumi ini. Sebenarnya hampir sama apa yang dilakukan Rasulullah dengan pondok pesantren sekarang yang membedakan hanya sarana dan prasarana. Terlepas dari hal itu Islam adalah agama yang dinamis selalu membuka diri dengan perkembangan jaman.
Didalam perkembangannya Islam lebih mementingkan ruh Islami daripada media yang digunakan, bukan berarti Islam tidak mempermasalahkan media dan sarananya tapi selama masih dalam koridor syariat Islam tetap diperbolehkan. Karena peradaban dan tehnologi selalu berkembang seiring perjalanan waktu. Sedangkan masyarakat muslim selalu dituntut untuk menjadi pemimpin serta menjadi bagian dari perkembangan masyarakat modern yang dibalut dengan aklhaqul Qarimah mentauladani Rasulullah. Bahkan Rasulullah pernah bersabda "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Terlepas dari pro dan kontra terhadap keshahihan hadist ini, hadist itu mengisyaratkan bahwa Rasulullah melihat pada saat itu Cina adalah negeri yang terlebih dahulu memiliki peradaban lebih maju terutama masalah ilmu pengetahuan, padahal Cina sendiri negara non muslim.
Lantas apa perbedaan antara system yang dipakai para biara dan pondok pesantren? Secara konsep memang sangat berbeda karena pondok pesantren mempunyai tujuan untuk menciptakan masyarakat Robbani yang tawazun yaitu menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, pesantren menyiapkan manusia untuk siap bersaing disemua lini dengan tetap mengedepankan akhlak yang baik. Karena Islam tidak menghendaki umatnya menjadi masyarakat Rahbaniyah yang hanya mengabdikan hidupnya untuk ukhrawi dengan meninggalkan kehidupan duniawi.
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(Terjemahan Q.S. al-Qashas:77)
Pada ayat ini Allah Ta'ala memerintahkan kepada orang-orang beriman agar dapat menciptakan keseimbangan antara usaha untuk memperoleh keperluan duniawi dan keperluan ukhrawi. Tidak mengejar salah satunya dengan cara meninggalkan yang lainnya. Rasulullah sangat mencela orang-orang yang hanya mengejar akhirat dengan meninggalkan duniawi. Apalagi kalau menjadi beban orang lain dalam masalah nafkah. Rasulullah juga pernah mencela seorang pemuda yang membebani ayahnya dalam nafkah.
Kehidupan duniawi dan ukhrawi merupakan fitrah yang harus dijalani oleh manusia, sehingga menjalani kehidupan ini dengan memenuhi kebutuhan keduanya tidak dapat dipisah-pisah. Membuat keseimbangan antara dunia dan akhirat merupakan bagian dalam ajaran Islam yang harus dilaksanakan oleh umatnya.
Lantas bagaimana kita menyikapi tentang anggapan bahwa pondok pesantren mengadopsi system non muslim? Itu hanya cara yang digunakan imperialis barat seiring dengan visi dan misinya untuk memecah-belah ukhuwah Islamiyah serta semangat mereka untuk membunuh ruh Islam dengan segala macam cara. Maka sangat ironis sekali jika kita sesama muslim saling mencurigai dan saling menjatuhkan.
Tentu masih membekas dalam hati kita tentang sejarah kehancuran khilafah Islamiyah sebagai symbol persatuan dan kesatuan umat Islam. Khilafah Ustmaniyah tumbang karena pengkhianatan Mustafa Kemal Ataturk yang tergiur dengan bujuk rayu imperialis dan Yahudi, tapi setelah misi imperialis berhasil maka Mustafa Kemal dicampakkan bagaikan sampah yang tidak berguna. Keberadaannya di Eropa tidak diakui sedangkan dinegara berbasis Islam di Asia dan Afrika juga sudah dianggap sebagai pengkhianat. Itulah akibat kebodohannya yang membuatnya frustasi.
Tentunya kita tidak ingin seperti Mustafa Kemal, sesungguhnya orang-arang imperialis barat menaruh kedengkian yang tersembunyi terhadap Islam dan kaum muslimin sampai target mereka terpenuhi. Untuk memenuhi target tersebut mereka menempuh langkah-langkah sebagai berikut.
- Membuat keragu-raguan tentang Islam, tentang struktur Islam dan menunjukkan kemampuannya mengejar ilmu pengetahuan dan tehnologi walau menjauhkan agama dari kehidupannya
- Sekulerisasi dan menjauhkan penguasa dari berpatokan pada hukum-hukum syariat dengan dalih agama adalah perintang utama kemajuan disegala bidang.
- Adanya dikotomi pendidikan antara pendidikan agama dan pendidikan umum yang menyebabkan konflik internal pada keluarga yang kemudian melebar dalam satu bangsa.
- Mementingkan pendidikan umum dan menempatkan alumni-alumninya pada jabatan-jabatan strategis dan meremehkan para alumni-alaumni pendidikan agama sehingga menimbulkan image yang buruk dalam masyarakat.
- Menyebarkan kerusakan moral dalam masyarakat dan menenggelamkan dalam lautan syahwat hingga berpaling dari Agama. Dalam hal ini Orientalis Syatilyn dalam bukunya "Al-Gharaha Alal 'Alaamil Islami" berkata "Gelas dan artis mampu menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam, maka tenggelamkanlah umat Muhammad ke dalam cinta materi dan syahwat."
- Mendirikan sekolah-sekolah untuk mendidik generasi ala mereka dan menetekinya sejak bayi dengan susu kebencian terhadap Islam dan umat Islam. Dengan cara demikian diharapkan program-program mereka dilaksanakan oleh murid-muridnya
- Membuka rumah sakit dan rumah-rumah penampunganuntuk mengobati para pasien dan menampung orang-orang yang tidak mampu. Dari situlah mereka menghembuskan racunnya dan melaksanakan konspirasinya dengan tipu muslihat.
- Memberikan beasiswa kepada anak kaum muslimin untuk belajar dinegaranya dengan demikian terbuka kesempatan untuk merusak kepribadian orang Islam, mencuci otak mereka dengan pemahaman yang salah dan membolehkan semua hal yang diharamkan bagi orang Islam. Sehingga pada saat pulang akan memberikan pengaruh atas programnya kepada kaum muslim dinegara asalnya.
Inilah sebagian kecil cara-cara yang digunakan para imperialis dan dengan cara-cara itulah negara-negara imperialis barat melubangi tembok Islam, menggoyang pondasinya dan melemahkan keimanan dalam diri kaum muslim. Untuk itu jangan mudah terprovokasi jangan mudah diadu domba antara sesama muslim mari kita rapatkan barisan, kita kuatkan ukhuwah Islamiyah karena cukuplah pengalaman Mustafa Kamal menjadi pelajaran bagi kita.
Kalaupun memang benar pondok pesantren adalah hasil adopsi dari system non muslim, tidak ada yang perlu dipermasalahkan, karena dipondok pesantren itu sendiri ruh dan nuansa Islaminya sangat kuat, bahkan pondok pesantren sudah menjadi alternatif yang baik bagi umat Islam untuk belajar ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan pada aspek akhlak dibanding pendidikan umum yang terkadang hanya sekedar barter uang dengan ilmu pengetahuan tanpa memikirkan aspek akhlaknya. Bukankah dulu dijaman keemasan Islam para non muslim juga berbondong-bondong belajar ilmu pengetahuan kepada umat Islam di Andalusia Spanyol ?
Maka berhentilah saling mencurigai antar sesama muslim, sudah bukan jamannya lagi kita mempermasalahkan yang bukan substansial, bukan jamannya lagi memperdebatkan tentang khilafiah karena perbedaan itu rahmah yang akan menambah wawasan kita, berhentilah saling mencari pembenaran sendiri, mari kita satukan tekad untuk membangun dan menegakkan panji-panji Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamiin dengan kalimat tauhid "La ilaha illa Allah"
Jika ada saran dan kritik silakan dishare di kolom komentar.



Wednesday, May 22, 2013
Insan Robbani


Posted in: 




