"Dunia ini adalah perhiasan
dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah".
Itulah gambaran bahwa Islam sangat memuliakan keberadaan wanita yang shalihah, digambarkan bahwa sebaik-baik perhiasan bukanlah emas permata ataupun berlian melainkan wanita shalihah. Itu artinya seluruh yang menjadi bagian dari kewanitaan adalah sesuatu yang sangat berharga tidak ternilai dengan apapun. Karena begitu berharganya maka Islam menghendaki agar dijaga sebaik mungkin dan disimpan rapat-rapat.
Wanita dan segala bagian kewanitaannya nilainya melebihi emas permata berlian atau jenis apapun. Tetapi justru kadang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dikalangan muslimah sekarang ini. Mereka lebih menghargai barang-barang berharganya dibanding menjaga aurat sebagai symbol kemuliaan wanitanya. Itu terlihat dari kehidupan sehari-hari mulai terjadi degradasi moral, itu bisa dilihat dari cara berbusana, sikap dan tingkah laku muslimah dalam pergaulan, sedikit demi sedikit mulai jauh dari sikap yang Islami.
![]() |
| sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah |
Seorang wanita jika memiliki perhiasan yang sangat mahal tentu akan sangat berhati-hati menjaganya bahkan disimpan rapat-rapat agar tidak semua mata bisa melihatnya apalagi terlihat mata penjahat. Mengapa harus menjaga dan menyimpan rapat-rapat? karena barang tersebut dianggap mahal harganya. Tapi bukankah aurat muslimah jauh lebih mahal dibanding perhiasan-perhiasan tersebut, maka sudah sepantasnya jika kalian menjaganya dengan lebih ekstra, jangan sampai mata liar menatap dengan tatapan penuh syahwat.
Sungguh sangat ironis jika seorang muslimah mengkuti kontes ratu kecantikan, peragaan busana yang melenggak-lenggok dihadapan ratusan pasang mata dengan memamerkan lekuk tubuhnya hanya untuk mendapat penghargaan dan kemuliaan dari manusia. Tidakkah muslimah sadar bahwa hakekatnya semua wanita diciptakan cantik bak mutiara, dilahirkan sebagai lambang kecantikan, keindahan, kelembutan dan kasih sayang.
Allah dan Rasulnya sangat memuliakan keberadaan seorang wanita, terbukti diturunkan sebuah surah dalam Al Quran dengan nama An-Nissa (wanita-wanita) serta banyak ayat yang memuliakan seorang wanita. Apa masih belum cukup kemuliaan yang diberikan Allah Tuhan kita? Apa masih perlu pengakuan kemuliaan dari manusia? Entahlah !
Ada lagi wanita yang menggembar-gemborkan tentang emansipasi dan kesetaraan gender. Emansipasi bagaimanakah yang dikehendaki? Padahal kedudukan wanita dalam pandangan ajaran Islam
tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Ajaran
Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta
kedudukan terhormat kepada wanita.
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Terjemahan QS. Al Baqarah: 228)
Mari Kita tengok sejarah kebelakang dimasa sebelum datangnya Islam maka manusia memandang hina terhadap keberadaan wanita. Orang-orang Yunani memandang wanita sebagai alat pemuas dan kesenangan belaka. Di Romawi orang memberikan hak atas Ayah dan suami untuk memperjual-belikan anak perempuan atau istrinya. Orang Arab memberikan hak atas anak untuk mewarisi istri ayahnya (naudzubillahimindzalik). Anak perempuan juga tidak berhak atas harta waris dan dilarang memiliki harta. Hal itu juga banyak terjadi di berbagai negara yang mendiskriminasikan wanita seperti di Persia, Hindia dan lain-lain.
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (Terjemahan QS. An-Nahl: 58)
Bandingkan dengan posisi wanita setelah datangnya Islam. Islam telah menghargai kewanitaan wanita dan Islam menganggap wanita sebagai unsur penyempurna bagi kaum laki-laki, sebagaimana laki-laki juga penyempurna bagi wanita. Maka bukanlah antara satu sama lain dari mereka itu sebagai musuh, bukan pula sebagai pesaing, akan tetapi wanita sebagai penolong bagi kaum laki-laki untuk menyempurnaan kepribadian dan jenisnya, dan begitu pula sebaliknya
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Terjemahan QS. Al Taubah: 71)Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemahan QS. Al Rûm: 21)
Banyak ulama besar yang mendiskripsikan kemuliaan wanita sebagai berikut
Imam Al Ghazali
Al-Ghazali,
salah seorang ulama besar Islam
kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis: "Kalau kita mengembalikan
pandangan kemasa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan
perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang
tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka
ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan
barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan
tidak dijadikan bahan perbandingan
Mahmud Syaltut
Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syaikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis: "Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki. Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum Syari'at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Lelaki menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan. Begitu juga perempuan juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan.
Banyak faktor yang telah mengaburkan keistimewaan
serta memerosotkan kedudukan wanita. Salah satu di antaranya adalah
kedangkalan pengetahuan keagamaan, sehingga tidak jarang agama (Islam)
diatas namakan untuk pandangan dan tujuan yang tidak dibenarkan itu.
Jika hari ini kalian para muslimah masih menuntut emansipasi, kesamaan gender atau persamaan hak atas kaum pria maka sesungguhnya adalah langkah mundur dan ketinggalan jaman, karena Islam sejak awal sudah sangat konsen memikirkan tentang emansipasi. Tetapi tentunya bukan emansipasi seperti yang didengung-dengungkan barat yang sengaja ingin merongrong Islam dan solidnya ukhuwah muslimah dengan mengatakan bahwa Islam bersikap diskriminsi terhadap wanita.
Bagaimana pendapat kalian para Muslimah ? Silakan dishare dikolom Komentar.



Sunday, April 21, 2013
Insan Robbani

Posted in: 






